Ketahanan Pangan Indonesia: Fondasi Penting bagi Masa Depan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Ketahanan pangan tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai isu pertanian. Di tengah pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, gangguan rantai pasok, dan perubahan pola konsumsi, ketahanan pangan telah menjadi isu strategis yang menyentuh hampir semua sektor, termasuk pariwisata dan ekonomi kreatif. Secara global, produksi pertanian dunia memang tumbuh 54% sepanjang 2001–2021, lebih tinggi daripada pertumbuhan populasi dunia yang mencapai 29%. Namun, laju tersebut masih dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan 9,6 miliar penduduk dunia pada 2050, sehingga produksi pangan diperkirakan perlu meningkat hingga 100%, sementara tekanan perubahan iklim terus menekan produktivitas pangan. Bagi Indonesia, tantangan ini terasa sangat nyata. Sejumlah komoditas strategis nasional masih bergantung pada impor, seperti kedelai sebesar 80–90%, gula pasir 65–70%, bawang putih 90–95%, dan daging sapi 25–30%. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan nasional belum sepenuhnya ditopang oleh produksi domestik yang kuat. Pada saat yang sama, berdasarkan Global Food Security Index 2022, Indonesia berada di peringkat 63 dari 113 negara dengan skor 60,2 atau kategori moderat. Nilai keterjangkauan Indonesia memang cukup tinggi, yaitu 81,4, tetapi skor ketersediaan hanya 50,9, kualitas dan keamanan 56,2, serta keberlanjutan dan adaptasi 46,3. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan pangan di Indonesia bukan sekadar soal ada atau tidaknya bahan makanan, melainkan juga menyangkut kualitas gizi, keberlanjutan produksi, ketahanan sistem distribusi, hingga kemampuan masyarakat dalam mengakses pangan yang sehat dan beragam. Inilah sebabnya ketahanan pangan perlu dipahami sebagai fondasi pembangunan yang lebih luas, termasuk untuk memperkuat daerah tujuan wisata, desa wisata, usaha kuliner, UMKM kreatif, dan ekosistem ekonomi lokal. Baca juga: Pelatihan Manajemen Catering: Meningkatkan Keamanan Pangan dan Kepatuhan Regulasi Mengapa Ketahanan Pangan Menjadi Isu Besar di Indonesia Ketahanan pangan Indonesia menghadapi tantangan yang bersifat struktural, ekonomi, sosial, dan lingkungan sekaligus. Dari sisi struktural, sektor pertanian menghadapi minimnya regenerasi petani muda, alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian, serta banyaknya jaringan irigasi tersier di desa yang belum berfungsi optimal. Dari sisi ekonomi, Indonesia masih bergantung pada impor komoditas kritis dan memiliki rantai pasok pangan yang panjang, yang pada akhirnya mendorong inflasi harga pangan di tingkat masyarakat. Tantangan tersebut diperburuk oleh persoalan gizi. WRI Indonesia menyoroti bahwa sedikitnya 23 juta orang Indonesia masih belum mampu memenuhi asupan gizi seimbang harian.  Indonesia juga menghadapi triple burden malnutrition, yaitu kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan kekurangan mikronutrien secara bersamaan. Pada anak usia di bawah lima tahun, angka stunting tercatat 21,6%, wasted 7,7%, dan kekurangan berat badan 17,1%.  Sementara itu, BRIN juga menyoroti bahwa stunting masih berada di angka 21,5% pada 2023 dan gizi buruk 7,7% pada tahun yang sama. Masalah gizi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas konsumsi. Pola makan masyarakat yang terlalu bergantung pada nasi sebagai sumber karbohidrat utama, serta menurunnya konsumsi pangan bergizi seperti sayur, buah, polong-polongan, dan ikan, menjadi tantangan serius bagi masa depan kesehatan masyarakat. Produksi Pangan Tidak Bisa Dipisahkan dari Keberlanjutan Di tengah kebutuhan meningkatkan produksi, Indonesia tetap harus berhati-hati agar strategi pangan tidak merusak fondasi lingkungan. Sistem pangan global saat ini menyumbang sekitar sepertiga emisi dunia.  Di Indonesia sendiri, emisi dari sistem pangan dan tata guna lahan diperkirakan berkontribusi 58% terhadap total emisi nasional pada 2019, dengan salah satu penyebab terbesar berasal dari pembukaan lahan. Masalah keberlanjutan juga terlihat dari penggunaan input pertanian. Pada 2021, dari total 8,87–9,55 juta ton pupuk bersubsidi yang disalurkan, hampir 80% di antaranya berupa pupuk kimia.  Ketergantungan yang tinggi pada pupuk kimia dapat memperburuk kesehatan tanah, mengurangi daya simpan air, dan pada akhirnya menekan produktivitas pertanian dalam jangka panjang. Karena itu, penguatan ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan meningkatkan volume produksi. Yang dibutuhkan adalah transformasi menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan: melindungi lahan pertanian, menjaga hutan sebagai penyangga ekosistem, mendorong penggunaan pupuk yang lebih ramah lingkungan, mengelola air dengan lebih efisien, serta memperkuat pangan lokal yang sesuai dengan karakter wilayah. Empat Arah Transformasi Ketahanan Pangan WRI Indonesia melalui Koalisi Sistem Pangan Lestari menekankan bahwa transformasi pangan Indonesia memerlukan perubahan multi-pilar. Empat pilar yang didorong adalah pola makan sehat berbasis sumber daya dan kearifan lokal, produksi berkelanjutan, pengurangan susut dan limbah pangan, serta pengembangan platform multipihak untuk transformasi tata kelola sistem pangan Indonesia. Arah ini penting karena persoalan pangan tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, desa, pelaku usaha, komunitas, akademisi, hingga masyarakat perlu bergerak bersama. BRIN juga menegaskan perlunya sinergi yang holistik antara pusat, daerah, dan desa dalam penguatan kemandirian pangan.  Selain itu, pembinaan yang berkelanjutan, pengawasan yang sistematis, serta pengembangan kapasitas pemerintahan desa menjadi bagian penting agar program ketahanan pangan berjalan efektif. Pandangan tersebut sejalan dengan posisi ketahanan pangan sebagai agenda nasional yang juga mendapat perhatian dari Perum Bulog dalam pembahasan mengenai ketahanan pangan nasional.  Ini menunjukkan bahwa pangan bukan isu sektoral yang berdiri sendiri, melainkan urusan strategis yang menyangkut stabilitas sosial, ekonomi, dan pembangunan jangka panjang. Ketahanan Pangan dan Peluang bagi Pariwisata serta Ekonomi Kreatif Banyak orang masih melihat ketahanan pangan sebagai isu yang jauh dari pariwisata. Padahal, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Destinasi wisata yang kuat tidak hanya membutuhkan akses, atraksi, dan promosi, tetapi juga membutuhkan ekosistem pangan lokal yang sehat, stabil, berkualitas, dan berkelanjutan. Sektor pariwisata sangat bergantung pada rantai pasok makanan, terutama di daerah yang mengandalkan wisata kuliner, hotel, restoran, katering, pusat oleh-oleh, serta event budaya berbasis komunitas. Ketika ketahanan pangan lemah, harga bahan baku mudah bergejolak, pasokan tidak stabil, kualitas produk menurun, dan pengalaman wisatawan ikut terdampak. Sebaliknya, ketika pangan lokal dikelola dengan baik, daerah memiliki peluang lebih besar untuk membangun identitas kuliner yang kuat, memperkuat UMKM, dan menciptakan nilai tambah ekonomi kreatif. Diversifikasi pangan lokal juga dapat menjadi kekuatan baru bagi pariwisata dan ekonomi kreatif. Ketika masyarakat tidak hanya bertumpu pada beras, tetapi juga mengangkat umbi-umbian, jagung, sorgum, ikan lokal, rempah, hasil kebun, dan produk olahan khas daerah, maka lahirlah peluang besar untuk pengembangan menu autentik, storytelling produk, kemasan kreatif, dan pengalaman wisata berbasis budaya lokal. Di sinilah ketahanan pangan bertemu langsung dengan inovasi produk dan kreativitas pasar. Bagi desa wisata, ketahanan pangan bisa diwujudkan dalam bentuk kebun produktif, dapur komunitas, pelatihan pengolahan hasil pangan lokal, hingga pengembangan paket wisata edukasi berbasis pertanian, kuliner, dan budaya. Bagi pelaku ekonomi kreatif, isu ini dapat diterjemahkan menjadi desain produk pangan lokal yang lebih menarik, branding yang lebih

Ketahanan Pangan Indonesia: Fondasi Penting bagi Masa Depan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Read More »